PRAKTEK DISTEK1
DEKOMPOSISI KAIN ANYAMAN POLOS
I.
Maksud dan Tujuan
·
Untuk
mengetahui tetal lusi dan tetal pakan dari kain contoh.
·
Untuk
mengetahui nomer benang lusi dan nomer benang pakan dari kain contoh.
·
Untuk
mengetahui jenis anyaman dari kain contoh.
·
Untuk
mengetahui mengkeret dari benang lusi dan benang pakan dari kain contoh.
·
Untuk
mengetahui kebutuhan benang lusi dan benang pakan yang dibutuhkan dari kain
contoh.
·
Untuk
mengetahui konstruksi kain contoh.
II.
Data Pengamatan
Alat dan Bahan :
Ø Lup (kaca pembesar)
Ø Gunting
Ø Penggaris
Ø Jarum layar 10 cm
Ø Buku kotak kotak
Ø Double tape
Ø Kain contoh (9cm × 9cm)
Setelah praktikum, didapatkan data dari kain contoh
sebagai berikut:
No.
|
Tetal
Lusi
|
Tetal
Pakan
|
1.
|
90
|
50
|
2.
|
88
|
50
|
3.
|
90
|
50
|
Rata-rata
= 89,33
|
Rata-rata
= 50
|
No.
|
Panjang
Lusi (cm)
|
Panjang
Pakan (cm)
|
1.
|
9
|
9,2
|
2.
|
10,8
|
9,5
|
3.
|
10,5
|
8,5
|
4.
|
9,2
|
9
|
5.
|
9,1
|
9,5
|
6.
|
9,1
|
9
|
7.
|
9,1
|
9,3
|
8.
|
9,3
|
9,2
|
9.
|
9,2
|
9,5
|
10.
|
9
|
9
|
∑ = 94,3
|
∑ = 91,7
|
|
Rata-rata
= 9,43
|
Rata-rata
= 9,17
|
Berat kain contoh (ukuran 9cm × 9cm) :
0,59 gram
Berat 10 helai lusi : 12,6 mg = 0,0126
gram
Berat 10 helai pakan : 10,3 mg =
0,0103 gram
Panjang lusi = 9,43 cm = 0,943
III.
Perhitungan
1.
Menghitung mengkeret benang lusi dan pakan.
Panjang
benang dari kain contoh = Pk
Panjang
benang setelah diluruskan = Pb
Mengkeret
benang (M) =
Mpakan =
×100% = 17%
Mlusi =
×100% = 4,56%
2.
Menghitung
Nomer benang lusi dan benang pakan
Ne1
= Nm × 0,59
Tex
=
Td
=
Nmpakan
=
= 89,03 Nmlusi =
= 74,84
Ne1
pakan = 0,59×89,03 = 52,5277 Ne1
lusi = 0,59×74,84 = 44,1556
Tex
pakan =
= 11,23 Tex
lusi =
= 13,36
Td
pakan =
= 101,09 Td
lusi =
= 120,56
3.
Menghitung
berat kain per m2
a. Dengan penimbangan
Berat kain per m2 =
Berat kain (gram)…………………………..…...(BB)
=
0,59 = 72,83
b. Dengan perhitungan
1.
Berat
Lusi =
×
=
= 49,23 …..……………....…(B1)
2.
Berat
Lusi =
×
=
×
= 22,52………….………………..(B2)
3.
Berat
kain per m2 = B1 +
B2 ……………………………..................……(BK)
= 49,23 +22,52 = 71,75
4.
Hitung
selisih berat hasil penimbangan ( B1) dengan hasil perhitungan ( B4
)
Selisih =
=
= 1,48%
5.
Menggambar
anyaman dan rencana tenun
X
|
X
|
|||
X
|
X
|
X
|
||
X
|
X
|
|||
X
|
X
|
X
|
||
X
|
X
|
X
|
IV.
Diskusi
Data pengamatan didapatkan setelah
melakukan praktikum. Langkah pertama kita harus menentukan arah lusi dan pakan.
Arah lusi dapat ditentukan dengan beberapa cara yaitu dengan melihat arah bekas
sisir tenun atau jumlah tetal benang. Apabila dengan melihat arah bekas sisir
tenun seperti rintik air hujan. Apabila dari jumlah tetal benang dalam 1 inchi
harus menggunakan lup dan menghitungnya secara manual dan jumlah tetal lusi
lebih banyak daripada tetal pakan.
Setelah mendapatkan arah lusi dan
pakan, menghitung masing-masing tetal lusi dan tetal pakan dalam 1 inchi dn
megambil datanya sebanyak 3 kali di tempat yang berbeda tetapi harus membentuk
diagonal seperti jika kita mengambil data pertama dari pojok kiri bawah lalu
data kedua tidak boleh disamping atau diatas dari data pertama melainkan
ditengah tengah kain contoh kemudian data ketiga diambil di pojok kanan atas.
Setelah mendapatkan 3 data lalu dijumlahkan dan di rata-rata.
Kemudian membuat ukuran kain sebesar
9cm × 9cm tetapi harus dilebihkan 0,5 cm agar tidak terdapat kecacatan kain
karena terpotongnya benang secara tidak merata dan timbang. Setelah ditimbang
berat kain sample, kita meniras benang lusi dan pakan dari kain sample tersebut
sebanyak 10 helai dan timbang berat 10 helai pakan dan 10 helai lusi. Setelah
10 helai pakan ditimbang, benang tersebut diukur panjangnya menggunakan
penggaris satu persatu kemudian dijumlahkan dan dirata-rata panjangnya. Begitu
pula dengan 10 helai lusi yang telah ditimbang kemudian diukur panjangnya
menggunakan penggaris satu persatu lalu dijumlahkan dan dirata-rata panjang
benangnya.
Apabila telah melakukan semua tahap
pengerjaan lalu ditulis data pengamatannya dan menggambar anyaman kainnya.
Anyaman kain didapatkan dengan menggunakan lup kita melihat bagaimana efek pakan
dan efek lusinya seperti pada anyaman pertama yg terlihat efek pakan yaitu
benang pakan diatas lusi dan disebelah kanannya yg terlihat efek lusi yaitu
benang lusi diatas pakan. Dan didapatkan hasilnya setelah benang lusi naik 1
kemudian turun 1 yaitu anyaman polos.
Pada saat mengukur benang lusi dan
pakan dari kain sample didapatkan data yang lebih panjang dari kain sample
seperti pada perhitungan panjang benang pakan dari kain sample sebesar 9,2 cm
sedangkan kain sample sendiri sepanjang 9 cm, ternyata dalam 1 kain tersebut
adanya efek mengkeret benang. Karena itu kita pun harus menghitung mengkeret
benang lusi dan pakan. Caranya untuk benang lusi, rata-rata panjang benang lusi
dikurangi panjang kain sample sehingga didapatkan selisihnya. Selisih tersebut
dibagi dengan rata-rata panjang lusi dan
dikali 100% untuk mengubahnya dalam bentuk persentase. Begitu pula untuk
menghitung mengkeret benang pakan yaitu selisih dari rata-rata panjang pakan dan
panjang kain dibagi rata-rata panjang benang pakan dikali 100% untuk
mengubahnya dalam bentuk persentase.
Untuk membuat dekomposisi kain dari
kain sample kita harus mengetahui nomor benang yg digunakan. Nomor benang
mempunyai beberapa satuan yaitu Nm, Ne1, Tex, dan Td. Pada umumnya
untuk mencari nomor benang yaitu panjang benang dibagi dengan berat benang.
Sedangkan untuk mencari nomor benang dalam satuan Nm yaitu dengan panjang
benang lusi atau pakan dalam satuan meter (m) dibagi oleh berat lusi atau pakan
dalam satuan gram (g). Apabila ingin mengkonversi dalam satuan Ne1
maka nomor benang dalam satuan Nm dikali dengan 0,59. Berbeda lagi apabila
mengkonversinya dalam satuan Tex yaitu 1000 dibagi dengan nomor benang dalam
satuan Nm karena Tex mengungkapkan setiap panjangnya 1000 meter. Jika ingin
mengkonversinya dalam bentuk denier maka 9000 dibagi dengan nomor benang dalam
satuan Nm karena denier mewakili setiap panjang 9000 meter.
Karena dalam order kain dihitung dalam
berat ataupun setiam m2 maka kita harus mengitung berat kain dalam
perencanaan dekomposisi kain dari kain sample.
Untuk mencari berat kain cara penimbangan yaitu dari hasil perkalian 100 × 100
dan berat kain dibagi dengan ukuran kain sample (9cm × 9cm). Harus dikali
dengan 100 × 100 karena yang diminta dalam satuan luas m2 yakni
dengan mengubah centimeter (cm) menjadi meter (m) lalu menjadi area luas (m2).
Apabila dalam mencari berat kain
dengan cara perhitungan yaitu melalui beberapa tahap karena kita menentukan
berapa benang lusi dan pakan yang dibutuhkan. Untuk menghitung berat lusi yaitu
tetal lusi dalam 1 cm dikali panjang kain (100cm = 1meter) dikali lebar kain
(100cm = 1meter) dan dibagi nomor benang dalam satuan Nm. Lalu hasilnya dikali
dengan 100 dibagi selisih dari 100 dikurangi mengkeret lusi. Begitu pula dengan
berat pakan yaitu tetal pakan dalam 1 cm dikali panjang kain (100cm = 1meter)
dikali lebar kain (100cm = 1meter) dan dibagi nomor benang dalam satuan Nm.
Lalu hasilnya dikali dengan 100 dibagi selisih dari 100 dikurangi mengkeret
pakan. Setelah didapatkan berat lusi dan berat pakan, maka dijumlahkan agar
mendapatkan berat kain. Lalu hasil berat kain dengan cara penimbangan dikurangi
dengan berat kain cara perhitugan dan dikali 100% untuk mengubahnya dalam
bentuk persentase. Apabila hasil selisih berat kain cara perhitungan dan cara
penimbangan >5% maka pengambilan data pengamatan tersebut telah dilakukan
dengan teliti.
V.
Kesimpulan
Setelah melakukan semua tahap
praktikum, mendapatkan data pengamatan serta pengolahan data ataupun
perhitungan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Mengkeret benang lusi = 4,56%
2. Mengkeret benang pakan = 17%
3. No. benang lusi Nm = 74,84 , Ne1
= 44,1556 , Tex = 13,36 , Td = 120,56
4. No. benang pakan Nm = 89,03 , Ne1
= 52,5277 , Tex = 11,23 , Td = 101,09
5. Berat kain dengan cara penimbangan =
72,83
6. Berat kain dengan cara perhitungan =
71,75
7. Selisih berat kain = 1,48%
8.
Menggunakan
anyaman polos
Komentar
Posting Komentar